Tampilkan postingan dengan label Hizbut Tahrir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hizbut Tahrir. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Juli 2012

Pertemuan Abu Bakr Ba'asyir dengan Ustadz Ja'far Umar Thalib

PERTEMUAN ABU BAKAR BA’ASYIR DENGAN USTADZ. JA’FAR UMAR THALIB.

إن الحمد ﷲ نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ باﷲ من شرور أنفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده ﷲ فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له أشهد أن ﻻإله إﻻ ﷲ وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
فإن خيرالحديث كتابﷲ وخير الهدي هدي محمدصلى ﷲ عليه وعلى اله وسلم وشراﻻمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فنار

“Kisah Lama” yang Menunjukkan Bagaimana Tidak Amanahnya Khowarij

Keterangan Mengenai Pertemuan Abu Bakr Ba’asyir dengan Ustadz Ja’far Umar Thalib di Bandung pada tanggal 13 Februari 2007 yang diselenggarakan oleh FUUI (Forum Ulama Umat Islam) Jawa Barat.

Menyikapi gencarnya berita tentang perseteruan antara Abu Bakr Ba’asyir dengan Ustadz Ja’far Umar Thalib di mass media, maka Ustadz Athian ‘Ali sebagai ketua FUUI Jawa Barat melalui sekretarisnya saudara Hedi Muhammad, menelpon Ustadz Ja’far Umar Thalib memintanya untuk bersedia dipertemukan dengan Abu Bakr Ba’asyir. Maka Ustadz Ja’far pun menyatakan kesediaannya untuk memenuhi undangan dari FUUI tersebut dan terjadilah pertemuan yang penuh kesialan itu.

Dalam pertemuan tersebut dihadiri oleh Ustadz Athian ‘Ali, Hedi Muhammad, Abu Bakr Ba’asyir dan Ustadz Ja’far Umar Thalib. Ke-empat peserta pertemuan tersebut telah sepakat untuk menjadikan pertemuan itu tertutup dari publik dan sepakat pula untuk tidak memberitakan isi pertemuan tersebut kepada publik. Namun sebagaimana kebiasaan seorang Hizbiy, terlebih lagi Takfiri , mempunyai mental khianat setiap melakukan kesepakatan apapun. Dalam hal ini lakonnya hizbiy dan takfiri adalah Abu bakr Ba’asyir, dan muncul pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab mempublikasikan berita tentang isi pertemuan tersebut di website http://swaramuslim.net (Kasus Poso: Ba’asyir Didzalimi Jakfar Umar Thalib) dengan berbagai manipulasi berita yang menjadi bumbu penyedap berita isi pertemuan tersebut.


Maka, dalam kesempatan ini kami berkewajiban untuk menyuguhkan kepada kaum muslimin isi pertemuan sial tersebut dengan sejujurnya, setelah dilansirnya berita kebohongan seputar pertemuan tersebut oleh Abu Bakr Ba’asyir dan CS-nya. Ustadz Ja’far Umar Thalib tidak mampu memberitakan secara lengkap isi pertemuan tersebut karena memang pertemuan itu off the record dan sudah lewat masanya, sehingga yang bisa diberitakan oleh beliau disini hanya sebatas apa yang sempat beliau ingat, dan kata-kata yang disampaikan disini tidak persis seperti apa yang diucapkan dalam pertemuan tersebut, namun maknanya kurang lebih demikian.


Pertemuan dimulai dengan pengantar pembahasan yang disampaikan oleh moderator pertemuan tersebut yaitu Ustadz Athian ‘Ali, dimana beliau menyatakan keresahan kaum muslimin dengan silang pendapat yang terjadi antara Abu Bakr Ba’asyir dengan Ustadz Ja’far Umar Thalib didepan publik. Ustadz Athian ‘Ali mengambil kesimpulan bahwa berbagai silang pendapat ini terjadi adalah karena majalah Risalah Mujahidin yang diterbitkan oleh para pimpinan MMI (Majlis Mujahidin Indonesia) edisi Desember 2006, yang memberitakan,
“...Ja’far Umar Thalib di rekrut oleh DENSUS 88 dan disuruh oleh Mabes POLRI untuk membentuk Laskar Jihad yang baru, untuk menjadi bemper segenap operasi keamanan yang dilakukan oleh polisi khususnya yang berkenaan dengan umat Islam. Ja’far Umar Thalib dan Laskar Jihadnya tidak pernah berperang membela kaum muslimin di Ambon ataupun di Poso yang dilakukannya hanyalah mejeng di kedua tempat tersebut dan menjadi kambing bego hitam bagi kepentingan politik pemerintah…”

Maka Ustadz Athian ‘Ali mengharapkan dalam pertemuan tersebut kiranya dapat di clear-kan pemberitaan yang bisa memancing kemarahan Ustadz Ja’far Umar Thalib itu, ini semua dilakukan demi menjaga kemaslahatan ummat dan menghindari kebimbangan ummat. Kemudian dilanjutkan oleh perkataan Abu Bakr Ba’asyir yang menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui kalau ternyata ada tulisan seperti itu yang dimuat dalam majalah Risalah Mujahidin tersebut, Abu Bakr Ba’asyir menyatakan “ ...siapapun orangnya yang dikatakan demikian pasti akan marah”. Abu Bakr Ba’asyir mengusulkan untuk dibuatnya klarifikasi dari Ustadz Ja’far Umar Thalib di Risalah Mujahidin sebagai hak jawab yang harus diberikan kepadanya untuk menetralisir sebab-sebab perseteruan antara umat Islam. Setelah Ustadz Athian ‘Ali dan Abu Bakr Ba’asyir berbicara dalam pertemuan tersebut, maka Ustadz Ja’far Umar Thalib dapat giliran untuk berbicara dan beliau menerangkan sebagai berikut,

“Tulisan yang ada di Risalah Mujahidin edisi desember 2006 itu sesungguhnya bukan pertama kali caci-makian dan tuduhan palsu semacam itu di alamatkan kepada saya dan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Pada tahun 2000 ketika saya mendeklarasikan berdirinya laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, maka Abu Bakr Ba’asyir dan JI (Jama’ah Islamiyah) nya menuduh Ja’far sebagai kaki tangan CIA yang melakukan operasi intelejen terhadap umat Islam. Pada tahun 2001 majalah Media Dakwah di Jakarta yang diterbitkan oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, melansir wawancara dengan Adnan Arsal yang memberitakan bahwa “..Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah di Poso bila ada serangan Nashoro terhadap kaum muslimin, maka LJ (Laskar Jihad) sembunyi, sedangkan Mujahidin bersama kaum muslimin berperang memukul mundur serangan Nashoro itu. Dan bila para Mujahidin menang, maka segera LJ muncul dari persembunyiaannya dan menulis huruf LJ di pohon-pohon (yakni di lokasi pertempuran) untuk mengesankan bahwa yang memenangkan pertempuran itu adalah LJ”


Dan masih banyak lagi omongan-omongan dusta yang mendiskreditkan Ja’far Umar Thalib dan Laskar Jihad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, sebagaimana kedustaan MMI yang dimuat di Risalah Mujahidin tersebut. Semua bualan dan kedustaan gerombolan Abu Bakr Ba’asyir dan JI nya itu tidak dianggap oleh Ja’far Umar Thalib sebagai pokok permasalahan. Semua itu tidak mempengaruhi gerakan dakwah Salafiyyah yang –alhamdulillah- terus dilancarkan oleh Ja’far umar Thalib dan Salafiyyin yang lainnya, bak kata pepatah “Biar anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”.

Yang justru jadi pokok permasalahan adalah pemahaman takfiriyah yang ditebarkan oleh Abu Bakr Ba’asyir dikalangan umat Islam di Indonesia, pemahaman ini sangat berbahaya karena sesat dan menyesatkan terhadap pemahaman agama umat Islam. Dimana dalam pemahaman ini memberikan doktrinasi bahwa orang yang menentang Abu Bakr Ba’asyir dan JI nya dianggap kafir atau dianggap sebagai musuh Islam. Sehingga seorang muslim yang telah divonis kafir itu dihalalkan darahnya (yakni boleh dibunuh dan dilukai), dihalalkan hartanya (boleh dirampas atau dirusakkan hartanya), dihalalkan kehormatannya (boleh dilecehkan dan dijatuhkan kehormatannya).

Atas dasar pemahaman inilah, Abu Bakr Ba’asyir dan JI nya melakukan berbagai kekacauan di Indonesia, termasuk yang paling akhir dan paling menyakitkan adalah apa yang mereka lakukan di Poso terhadap kaum muslimin. Dua orang muslim di Poso dibunuh oleh anak buah Abu Bakr Ba’asyir, hanya karena dinilai keduanya itu menentang gerakan JI, sehingga di cap sebagai Intel atau BANPOL (bantuan polisi) yang berarti harus dikafirkan dan dihalalkan darahnya. Kemudian Abu Bakr Ba’asyir dan JI nya berusaha melindungi 29 orang yang termasuk dalam DPO (daftar pencarian orang) pihak POLRI dan membangkitkan semangat kaum muslimin di Poso untuk bersedia menjadi bemper bagi ke 29 DPO tersebut dalam melancarkan perlawanan terhadap aparat kepolisian.

Sehingga meletuslah pertempuran antara gerombolan Abu Bakr Ba’asyir beserta JI nya melawan polisi di Gebang Rejo Poso. Tentu kenyataan demikian ini sangat menyakitkan hati umat Islam yang mengerti permasalahan, dan termasuk dalam hal ini yang merasa sakit dengan kejahatan gerombolan Abu Bakr Ba’asyir dan JI nya adalah Ustadz Ja’far Umar Thalib.

Mendengar penjelasan Ustadz Ja’far Umar Thalib tersebut di atas, Abu Bakr Ba’asyir langsung menyatakan,

“...Ja’far ini jangan hanya mengambil informasi tentang peristiwa Poso dari Jusuf Kalla atau Polisi saja, mestinya Ja’far mengambil informasi dari orang Poso asli seperti Adnan Arsal atau dari Fauzan Al Anshari, agar tidak keliru dalam menilai permasalahan di Poso..”.


Ustadz Ja’far Umar Thalib menjawab,
“Saya datang ke Jusuf Kalla ataupun Polisi bukanlah untuk mengambil informasi, tetapi untuk menyampaikan nasihat kepada mereka, karena mereka adalah Ulil ‘Amri dan saya adalah seorang guru agama harus menyampaikan nasehat kepada Ulil ‘Amri. Adapun informasi tentang kejadian di Poso, saya dapatkan langsung dari masyarakat muslimin Poso ketika saya dengan 73 murid saya tinggal di Poso sejak tanggal 11 Desember 2006 sampai 4 Januari 2007, selama 24 hari saya tinggal di Poso itu, saya datang ke rumah-rumah muslimin juga ke masjid-masjid dan pasar-pasar serta ke lorong-lorong untuk mendapatkan gambaran kejelasan tentang apa yang sedang terjadi di Poso selama ini. Dari hasil kunjungan tersebut saya menyimpulkan bahwa Abu Bakr Ba’asyir dan JI nya adalah pendusta dan penipu yang mendustai dan menipu kaum muslimin di Indonesia dan di Poso khususnya.”


Abu Bakr Ba’asyir menjawab,
“Apa buktinya kalau saya itu pendusta dan penipu?”


Ustadz Ja’far Umar Thalib menjawab,
“Agar kamu wahai Abu Bakr Ba’asyir mengerti definisi dusta maka cobalah kamu baca dalam muqoddimah Shohih Muslim, bahwa disana Imam Muslim meriwayatkan bahwa Rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wasallam (Ustadz Ja’far menyebutkan lafadz haditsnya)

..Cukup seseorang itu dikatakan telah berdusta bila dia memberitakan apa saja dari apa yang dia dengar..”

Dalam hadits ini Rasulullaah shollallaahu ‘alaihi wasallam mendefinisikan orang yang berdusta itu ialah orang yang suka memberitakan tentang apa yang dia dengar tanpa ada upaya meneliti berita itu apakah benar atau salah. Maka dalam konteks hadits ini kamu wahai Abu Bakr Ba’asyir adalah pendusta karena kamu hanya memberitakan apa saja yang diceritakan oleh para dajjal (pendusta) semacam Adnan Arsal ataupun Fauzan Al-Anshari, dan berita itu kamu jadikan landasan untuk menghukumi suatu kejadian, bahkan kamu lemparkan kepada publik tanpa kamu teliti apakah berita itu benar atau salah.

Adapun bukti bahwa kamu penipu, yakni bahwa kamu baru berteriak tentang pelanggaran HAM di Poso ketika anak buahmu kalah dalam tembak-menembak dengan aparat kepolisian, dan kamu tidak sama sekali menyinggung tentang kejahatan anak buahmu terhadap kaum muslimin di Poso yang menjadi prolog peristiwa tembak-menembak itu. Apakah tidak melanggar HAM ketika anak buahmu membunuh seorang muslim yang akan sholat dimasjid di kota Poso, hanya karena dugaan bahwa orang tersebut adalah intel polisi.!?? Apakah tidak melanggar HAM ketika anak buahmu membunuh seorang muslim yang tengah bercengkrama dengan keluarganya hanya karena orang tersebut dicurigai sebagai intel polisi…!?? Apakah tidak melanggar HAM ketika anak buahmu menteror Ustadz Lili di Poso, dengan mencoba untuk membakar mobil beliau digarasi rumahnya, hanya karena anggapanmu bahwa Ustadz tersebut adalah BANPOL..!??

Maka sungguh kamu penipu, karena kamu menutupi kebusukan perbuatan anak buahmu terhadap kaum muslimin di Poso dan kemudian meneriakkan dihadapan publik bahwa anak buahmu di aniaya oleh polisi, dan bahkan kamu menyerukan jihad melawan polisi. Seruan jihad kamu itu juga membuktikan bahwa kamu seorang takfiri, karena tidak mungkin kamu menyerukan jihad melawan polisi, kalau kamu tidak menganggap bahwa polisi itu adalah kafir musuh Islam.”


Mendengar penjelasan Ustadz Ja’far tersebut di atas, Abu Bakr Ba’asyir kemudian mengatakan,
“Saya tidak pernah menyerukan jihad, yang saya lakukan adalah memberi peringatan kepada pemerintah bahwa jika DENSUS 88 terus-menerus menembaki kaum muslimin di Poso, maka bisa jadi kaum muslimin akan menyerukan jihad melawan DENSUS 88, dan saya mengutuk DENSUS 88 atas tindakannya.”


Ustadz Ja’far menjawab,
“Apapun perkataanmu, sesungguhnya kamu telah menyerukan jihad melawan polisi, padahal kalau kamu tidak mengkafirkan mereka dan berpegang dengan prinsip Ahlu Sunnah Wal Jama’ah maka kamu akan melihat bahwa mayoritas bahwa polisi itu adalah muslimin sebagaimana mayoritas bangsa indonesia. Namun karena kamu bermanhaj takfiri, maka kamu menilai bahwa muslimin yang tergabung dalam DENSUS 88 itu adalah kuffar yang harus dilawan dengan jihad. Juga kalau kamu bermanhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah niscaya kamu tidak akan mengutuk pemerintah dan DENSUS 88 (aparat pemerintah) meskipun berbuat dzolim sedzolim-dzolimnya. Cobalah kamu baca bagaimana perbuatan Imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah yang bernama Ahmad Bin Hambal Asy-Syaibani yang terkenal dengan sebutan Imam Hambali, dimana beliau dipenjara dan disiksa dengan sadis oleh pemerintahan Al Ma’mun dan Al Mu’tashim serta Al Mutawakkil berturut-turut, karena dipaksa untuk menyatakan keyakinan bahwa Al Qur’an itu adalah makhluk, padahal keyakinan itu adalah keyakinan kufur. Imam Ahmad didalam penjara selama 2 tahun 7 bulan dan ketika dibebaskan dari penjara Imam Ahmad selalu berdoa kepada Allah Ta’ala disetiap Qiyamul Lail untuk memintakan ampunan bagi Al Ma’mun dan Al Mu’tashim serta Al Mutawakkil, yang sangat mendzolimi beliau.

Sempat putra Imam Ahmad menanyakan kepada beliau; “Wahai ayah, mengapa ayah mendoakan ampunan bagi orang-orang yang sangat mendzolimi ayah..?” Imam Ahmad menjawab: “Wahai anakku, seandainya Allah memberitahu aku, bahwa Allah memberi satu doa untukku yang pasti dikabulkan olehNya, niscaya aku akan menggunakan satu doa itu untuk mendoakan agar para penguasa itu dapat petunjuk dari Allah. Karena bila mereka mendapatkan petunjuk dari Allah niscaya kebaikannya untuk segenap kaum muslimin dan bila mereka dikutuk oleh Allah niscaya kejelekkannya adalah untuk segenap kaum muslimin.

Demikianlah mestinya manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah dalam menyikapi kedzoliman pemerintah. Tidak seperti kamu wahai Abu Bakr Ba’asyir, hanya karena kamu menduga bahwa pemerintah telah mendzolimi engkau, maka engkaupun mengutuknya. Dan kebiasaan mengutuk pemerintah itu adalah kebiasaan takfiri khowarij yang sesat dan menyesatkan.”


Ustadz Athian ‘Ali ketika melihat perdebatan antara Ustadz Ja’far Umar Thalib dengan Abu bakr Ba’asyir, akhirnya beliau menyimpulkan: “ternyata perbedaan antara Ustadz Ja’far Umar Thalib dengan Abu Bakr Ba’asyir sangatlah mendasar. Dan berarti kami telah keliru dalam memahami permasalahan antara kedua beliau, yang kami duga permasalahannya itu hanya diseputar tulisan yang dilansir oleh majalah Risalah Mujahidin itu”. Dan pertemuan pun ditutup dengan harapan kiranya ada pertemuan lanjutan antara keduanya.


Sumber :
http://alghuroba.org/front/node/r/87
Top of Form

Senin, 16 Juli 2012

Dialog Cinta Akhwat HTI (Hizbut Tahrir Indonesia)



Sekedar parody pemikiran..!

ikhwan : “ukhti, aku mencintaimu”
akhwat HTI : “maaf, aku gak bisa terima”
ikhwan : “kenapa?”
akhwat HTI : “maaf, abang menyatakan cintanya baru sendirian. Jadi cinta abang masih ‘ahad'
ikhwan : “bukankah ukhti tahu saya orang yang jujur?”
akhwat HTI : “ya, saya tahu abang orang yang jujur”
ikhwan : “kalau saya bilang di dompet saya ada duit 50 ribu ukhti percaya ?”
akhwat HTI : “iya percaya”
ikhwan : “terus kenapa kalau saya nyatakan cinta ukhti tidak percaya?”
akhwat HTI : “karena cinta perkara ghaib. Saya gak terima kabar dari satu orang”
ikhwan : “terus apa yang harus saya lakukan agar ukhti percaya dengan cinta saya?”
akhwat HTI : “kabarkan ke seluruh dunia agar cinta abang jadi cinta yang ‘mutawatir’ !”
ikhwan : “lalu ukhti kenapa percaya kalau aku bilang di dompet ada duit sekian?”
akhwat HTI : “kalau masalah duit itu perkara yang masuk akal, jadi saya bisa terima. Tapi kalau cinta itu perkara ghaib, tidak bisa diterima dari satu orang”
ikhwan : “tapi saya bukan orang gila ukhti. Masa cinta yang suci ini harus disebar di masyarakat ?”
akhwat HTI : “ya biar jadi mutawatir bang. Jadi aku percaya cinta abang kalau udah mutawatir”

Akhirnya, si ikhwan bercerita kesana kemari bahwa ia mencintai si akhwat itu. Sampai orang-orang mengatakan bahwa si ikhwan itu orang gila. Kemudian akhwat itu mendatangi ikhwan tersebut dan berkata : “aku percaya cinta abang”

tetapi ada orang menyela : “ukhti, orang itu sudah gila”
akhwat HTI : “tidak apa-apa, karena dia mengabarkan kepada orang banyak. Jadi sanadnya banyak walaupun semuanya ‘dhaif’ bisa jadi ‘hasan’
orang itu berucap lagi : “apakah ukhti mau menerima dia sedangkan dia gila ? dan aku bersaksi sebagai seorang dokter jiwa mengetahui dia gila”
akhwat HTI : “maaf, bapak baru satu orang (ahad), jadi ucapan bapak saya tolak walaupun bapak seorang saksi yang ahli tetap saya tolak saya ambil perkataan orang banyak walaupun
lemah kedudukannya.”

Begitulah akhir pilihan hidupnya. Karena dia tidak mempercayai kabar dari satu orang, walau dari orang yang semestinya dia sendiri harus mempercayainya…!
Bottom of Form

Rabu, 20 Juni 2012

Kebodohan Hizbut Tahrir

إن الحمد ﷲ نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ باﷲ من شرور أنفسنا ومن سيأت أعمالنا من يهده ﷲ فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له أشهد أن ﻻإله إﻻ ﷲ وأشهد أن محمدا عبده ورسوله
فإن خيرالحديث كتابﷲ وخير الهدي هدي محمدصلى ﷲ عليه وعلى اله وسلم وشراﻻمور محدثاتها وكل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وكل ضلالة فنار


Oleh : Ustadz ‘Abdul Hakim bin Amir ‘Abdat

Pembahasan mengenai hadits ahad dan hubungannya dengan aqidah, atau hukum dan aqidah, itu tidak pernah dibicarakan oleh generasi pertama (sahabat), kedua (tabi’in) dan ketiga (tabi’ut tabi’in). Khususnya para sahabat, mereka tidak pernah memilah atau membagi-bagi hadits, seperti pembagian yang dilakukan oleh sebagian ahli bid’ah, bahwa hadits ahad hanya terbatas untuk hukum, sedangkan hadits mutawatir dapat dipakai untuk aqidah.

Pembagian seperti ini tidak pernah dikenal, kecuali oleh ahli bid’ah, seperti Mu’tazilah. Dan fikrah ini terus berkembang sampai pada awal abad kedua puluh, hingga timbul Mu’tazilah gaya baru, atau yang kita kenal dengan Hizbut Tahrir. 

Hizbut Tahrir, mereka membagi hadits mutawatir untuk aqidah dan ahkam. Sedangkan hadits ahad dikhususkan untuk masalah hukum. Adapun para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in dalam menerima hadits, jika hadits tersebut sah dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam maka mereka menerimanya, tanpa membaginya sebagaimana yang dilakukan oleh Mu’tazilah dan yang sepaham dengannya. Jadi pembagian yang dilakukan oleh Hizbut Tahrir, bahwa hadits ahad tidak bisa dipakai dalam aqidah, merupakan pembagian yang muhdats (bid’ah). 

Tampak sangat jelas kebodohan Hizbut Tahrir yang menolak khabar ahad untuk aqidah, karena hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara tentang Islam. Allah Azza wa Jalla memerintahkan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk menjelaskan Al Qur’an. Tentunya, yang dimaksudkan dalam hal ini adalah dinul Islam. Allah berfirman,

وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَانُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada ummat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan". (An Nahl : 44).

Ayat yang mulia ini, memberikan sejumlah faidah, hukum dan qawaid. Diantaranya, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam diperintahkan oleh Allah untuk menjelaskan Al Qur’an. Penjelasan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang Al Qur’an ini, agar manusia faham dengan apa yang dimaksudkan oleh Allah Azza wa Jalla.

Penjelasan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam sangat luas, meliputi apa yang ada dalam Al Qur’an, bahkan yang tidak disebutkan secara terperinci di dalamnya, meskipun secara mujmal (global) terdapat di dalam Al Qur’an. Karena itu, ulama membagi Sunnah Nabi menjadi beberapa bagian. Pendapat ini disampaikan oleh ulama, diantaranya Imam Syafi’i, kemudian dinukil Imam Baihaqi di dalam kitabnya, Al Madkhal, dan Imam Suyuthi di dalam kitab Miftahul Jannah.

Allah azza wa Jalla memerintahkan kita untuk menaati Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di 44 tempat di dalam Al Quran, seperti firman-Nya,

وَمَآءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَانَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah, dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah sangat keras hukumanNya". (Al Hasyr : 7).

Ayat ini bersifat mutlak yang memerintahkan kita untuk menerima yang datang dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, walaupun tidak tertulis di dalam Al Qur’an. Misalnya, seperti haramnya cincin emas serta kain sutera bagi kaum pria, dan lain sebagainya.

Ini merupakan Sunnah dan penjelasan Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam terhadap Al Qur’an. Dari sini, kita mengetahui bahwa Sunnah Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak hanya berbicara tentang satu hukum. Jika Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berbicara tentang satu hal -misalnya tentang shalat, zakat, jual beli- tidak hanya terbatas pada hukum tersebut, tetapi mencakup hukum yang lain, karena ini merupakan penjelasan Beliau terhadap Al Qur’an dan Islam secara keseluruhan. Karena itu, Al Qur’an sangat membutuhkan hadits, dan tidak sebaliknya.

Kita lihat lagi kebodohan Hizbut Tahrir. Mereka hanya mengikuti hawa nafsu. Diantara kebodohannya, mereka tidak bisa mengetahui adanya keterikatan antara aqidah dan hukum. Padahal keterikatan antara keduanya sangat erat, tak terpisahkan. Karena jika kita memisahkannya, berarti kita menetapkan sesuatu tanpa iman.

Misalnya hukum haramnya khamr. Dan menetapkan keharaman khamr itu dengan keyakinan, yang demikian ini merupakan aqidah. Mustahil kita menetapkan hukum tanpa keyakinan bahwa itu telah ditetapkan keharamannya oleh Allah Azza wa Jalla. Jadi, pemisahan antara aqidah dan hukum merupakan satu kerancuan dalam beragama, jauh dari nur Al Qur’an dan Sunnah. 

Hizbut Tahrir dan kawan-kawannya juga tidak istiqamah dalam menjalankan ajaran mereka. Ada sesuatu yang lucu. Kalau mereka mengatakan bahwa hadits ahad tidak bisa diterima dalam aqidah, tetapi jika mereka menyampaikan materi dalam ta’lim, atau manakala menulis kitab, maka khabarnya wajib harus mutawatir, tidak boleh satu orang. Ini sesuai dengan teori mereka. Akan tetapi, kenyataannya ustadz-ustadz mereka menyampaikan materi aqidah seorang diri, begitu juga ketika menulis.



CONTOH-CONTOH HADITS AHAD

Sering terjadi, apa yang disangka oleh Hizbut Tahrir sebagai hadits ahad, ternyata bukan hadits ahad. Sebagai contoh, tentang adzab kubur. Bahkan mereka sering menyampaikan pengingkaran terhadap adzab kubur. Padahal hadits tentang masalah ini derajatnya mutawatir maknawi. Dan masih banyak contoh lainnya.

Di awal sudah disampaikan, jika kita menerima teori mereka, maka sebagian besar aqidah akan tertolak. Contoh-contoh hadits ahad yang diterima, disepakati dan dijadikan dalil oleh para ulama dari zaman ke zaman, yang di dalamnya disamping berbicara tentang aqidah, tetapi juga hukum, atau yang lainnya. Karena keduanya berkaitan. Contohnya, kita lihat satu per satu.


Hadits nomor 1
Hadits berikut ini adalah riwayat Imam Bukhari dan Muslim, yaitu sebuah hadits ahad dan gharib.

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

"Sesungguhnya amal itu dengan niat, dan sesungguhnya bagi masing-masing orang mendapatkan apa yang dia niatkan. Barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang akan ia dapatkan atau kepada perempuan yang akan dia nikahi maka (hasil) hijrahnya adalah apa yang dia niatkan". (Muttafaqun ‘alaih).

Apakah hadits ini tidak berbicara tentang aqidah? 

Bahkan hadits ini berbicara tentang salah satu diterimanya amal, tentang ikhlas yang merupakan syarat diterimanya amal seseorang. 

Hadits ini, jelas merupakan hadits ahad, dan termasuk ke dalam bagian hadits gharib, karena tidak diriwayatkan, kecuali dari jalan Umar bin Khaththab. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Al Qamah bin Waqqash Al Laitsi. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Muhammad bin Ibrahim At Taimi. Dan tidak ada yang meriwayatkan darinya, kecuali Yahya bin Sa’id Al Anshari. Kemudian dari beliau ini diriwayatkan oleh puluhan perawi, bahkan mungkin ratusan. Awalnya mutawatir, akhirnya ahad dan gharib. Ini salah satu contoh hadits yang diterima oleh para ulama, bahkan hampir sebagian besar ulama.



Hadits nomor 2
Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Bukhari.

Hadits yang panjang, berbicara tentang hukum, aqidah, adab dan lain-lain. Yaitu hadits tentang kisah Hiraklius. Hadits ini telah diterima oleh para ulama. Di dalamnya diceritakan, Hiraklius bertanya kepada Abu Sufyan, yang ketika itu ia masih musyrik, berkaitan dengan dakwah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Diantaranya, Hiraklius bertanya kepada Abu Sufyan,

مَاذَا يَأْمُرُكُمْ قُلْتُ يَقُولُ اعْبُدُوا اللَّهَ وَحْدَهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَاتْرُكُوا مَا يَقُولُ آبَاؤُكُمْ وَيَأْمُرُنَا بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصِّدْقِ وَالْعَفَافِ وَالصِّلَةِ

"Apa yang diperintahkan oleh Muhammad kepada kalian? Aku (Abu Sufyan) menjawab,”Muhammad mengatakan: ‘ Sembahlah Allah semata dan janganlah kalian menyekutukanNya dengan sesuatu apapun, tinggalkanlah apa yang dikatakan (diyakini) oleh bapak-bapak (nenek moyang) kalian'. Muhammad (juga) menyuruh kami untuk shalat, zakat, jujur, menjaga harga diri dan menyambung tali silaturrahim…”

Bukankah yang dimaksudkan dalam hadits ini adalah aqidah?

Demikian ini aqidah, merupakan hadits ahad dan bukan mutawatir. Bahkan dalam hadits yang mulia ini terdapat surat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu:


بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ سَلَامٌ عَلَى مَنْ اتَّبَعَ الْهُدَى أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أَسْلِمْ تَسْلَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الْأَرِيسِيِّينَ وَ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

"Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad hamba Allah dan RasulNya kepada Hirakla (Hiraklius) pembesar Romawi, keselamatan atas orang yang mengikuti petunjuk, amma ba'du. Sesungguhnya aku mengajakmu dengan ajakan Islam, Islamlah! Engkau pasti akan selamat dan Allah akan memberikan kepadamu balasan dua kali lipat. Jika engkau berpaling, maka engkau akan menanggung dosa-dosa rakyatmu. (Kemudian Rasulullah membawakan ayat, yang artinya:) Katakanlah:"Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Ilah selain Allah.Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka : "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (Ali Imran : 64).

Surat ini mengajak Hiraklius untuk masuk Islam, kembali ke agama tauhid. Apakah seperti ini bukan aqidah? Demikian ini adalah masalah aqidah. Bahkan dalam hadits ini terkumpul masalah akhlak, hukum, aqidah dan sebagainya.

Kalau hadits ahad tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam masalah aqidah, maka hadits yang mulia ini tertolak.



Hadits nomor 3
Hadits ini juga di dalam Shahih Bukhari. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya. Hadits ini ahad. Tetapi sepengetahuan kami, hadits ini masyhur, yaitu dari jalan Ibnu Umar.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَان َ

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “'Islam dibangun diatas lima asas (yaitu) syahadat (persaksian) bahwa tidak Ilah yang hak kecuali Allah dan syahadat bahwa Muhammad itu Rasulullah, mendirikan shalat, memberikan zakat, haji dan puasa ramadhan

Bukankah hadits ini telah disepakati oleh para ulama dan diterima dari zaman ke zaman?

Hadits ini menjelaskan tentang rukun-rukun Islam, dan diawali dengan syahadat. Apakah ini bukan masalah aqidah? Disini kita melihat lagi bahwa satu hadits, selain berbicara masalah aqidah, juga berbicara masalah hukum.



Hadits nomor 4
Hadits ini adalah hadits nomor 9 di dalam Shahih Bukhari. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dan yang lainnya. Hadits ini, selain ahad juga gharib, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

Dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam , Beliau Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda, “Iman itu ada enam puluh cabang lebih dan rasa malu merupakan salah satu cabang iman".

Hadits ini menjelaskan tentang cabang keimanan. Yakni, iman itu mempunyai enam puluh cabang lebih. Dan di riwayat Imam Muslim,

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

"Iman itu tujuhpuluh cabang lebih, Yang paling tinggi adalah ucapan laailaha illallaah, dan yang paling rendah ialah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan malu merupakan salah satu cabang iman".

Hadits ini juga berbicara tentang aqidah, hukum, akhlak dan adab, seperti menghilangkan gangguan dari jalan. Padahal ini merupakan hadits ahad dan gharib. Jikalau kita menerima kaidah mereka (Hizbut Tahrir), maka tertolaklah hadits ini, karena tidak diriwayatkan secara mutawatir.



Hadits nomor 5
Ini adalah hadits yang ke 14 dan 15 dalam riwayat Imam Bukhari. Hadits ini juga merupakan hadits ahad, berbicara tentang aqidah. Yaitu kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salllam dan cara mencapai kesempurnaan cinta kepadanya.

Dari jalan Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ

Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak akan beriman (sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai daripada bapak dan anaknya".

Dan hadits nomor 15, dari jalan Anas,

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan beriman (tidak akan sempurna keimanan) salah seorang diantara kalian sampai aku lebih dicintai daripada bapak dan anaknya dan semua orang".

Hadits yang mulia ini juga berbicara tentang aqidah.


Hadits nomor 6
Hadits ini adalah hadits nomor 16, tentang kelezatan atau manisnya iman yang dapat dirasakan oleh seseorang.

Dari Anas Radhiyallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam,

قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga hal, jika ketiganya terkumpul pada diri seseorang maka ia akan mendapatkan manisnya iman, (yaitu) Allah dan Rasulnya lebih dicintai daripada selain keduanya, mencintai seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci dilempar kedalam api neraka".

Hadits ini juga berbicara tentang cinta kepada Allah, RasulNya dan juga keimanan. Bahwa iman itu punya rasa. Demikian ini adalah masalah aqidah.



Hadits nomor 7
Hadits ini adalah hadits nomor 26 di dalam Shahih Bukhari.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ فَقَالَ إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ حَجٌّ مَبْرُورٌ

Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya, “Amal apakah yang paling afdhal?” Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab,”Iman kepada Allah dan RasulNya." Kemudian ditanya lagi, 'Lalu apa lagi ?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Jihad di jalan Allah'. Kemudian ditanya lagi, 'Lalu apa lagi ?' Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, 'Haji yang mabrur.'

Hadits yang mulia ini menjelaskan tentang iman. Bahwa iman itu masuk ke dalam bagian amal, dan amal itu masuk ke dalam bagian iman.

Oleh karena itu, Imam Bukhari memberikan Bab : Man Qaala Annal Iman Huwal Amal, bahwa amal itu masuk dalam iman. Sehingga, ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya tentang amal yang paling afdhal, Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab iman kepada Allah. 

Hadits ini telah diterima oleh semua ulama Ahlus Sunnah untuk menetapkan bahwa amal itu masuk ke dalam bagian iman. Yang tentunya akan menjelaskan kepada kita, bila iman itu bisa bertambah karena perbuatan ta’at, dan bisa berkurang karena perbuatan maksiat.



Hadits nomor 8
 Hadits ini adalah hadits nomor 32 di dalam Sahih Bukhari, dari jalan Abdullah bin Mas’ud,

قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ قَالَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّنَا لَمْ يَظْلِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

Ibnu Mas'ud mengatakan, "ketika turun firman Allah (yang artinya) Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al An'am : 82), para shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata, 'Siapakah diantara kita yang tidak berbuat zhalim ?' lalu Allah menurunkan firmanNya (yang artinya), sesungguhnya kesyirikan itu adalah kezhaliman yang besar"

Ketika surat Al An’am ayat 82 ini diturunkan, para sahabat merasa susah dan berat. Mereka mengatakan, siapakah diantara kita yang tidak menzhalimi dirinya? Maka Rasulullah menjelaskan kepada mereka, bahwa bukan itu yang dimaksud, tidakkah kalian mendengar perkataan Luqman kepada anaknya? Jadi zhulm (kezhaliman) disini, maksudnya adalah syirik. Ini juga berbicara tentang aqidah, antara tauhid dan syirik.



Hadits nomor 9
Hadits ini adalah hadits nomor 39 di dalam Sahih Bukhari, dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu,

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ

"Sesungguhnya agama itu adalah mudah"

Hadits ini juga berbicara tentang aqidah, bahkan berbicara tentang agama ini secara keseluruhan. Bahwa ajaran Islam, pengamalan dan dakwahnya adalah hal yang mudah. Apakah ini tidak berbicara tentang aqidah? Hadits ini berbicara tentang Islam, dan tentunya kaffah. Sebagaimana Allah memerintahkan kepada kita untuk masuk Islam secara kaffah (menyeluruh).



Hadits nomor 10
Hadits ini adalah hadits nomor 50.

Yaitu hadits tentang Jibril yang datang kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bertanya tentang Islam, iman dan ihsan, dan di Shahih Bukhari diringkas,

مَا الْإِيمَانُ قَالَ الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ قَالَ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ الْإِسْلَامُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلَا تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ قَالَ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

"Apakah iman ? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikatNya, kitab-kitabNya, pertemuan denganNya, para rasulNya dan beriman kepada hari kebangkitan.' Jibril bertanya, 'Apakah Islam ? Rasulullah bersabda, 'Islam adalah engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan sesuatupun denganNya, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang wajib, puasa Ramadlan. Jibril bertanya, 'Apakah Ihsan ? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salalm bersabda, 'Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, jika engkau tidak bisa melihatnya maka sesungguhnya Dia melihatmu …"
Hadits ini termasuk hadits ahad.



Hadits nomor 11
Hadits ini adalah hadits nomor 53. Yaitu hadits tentang utusan Abdul Qais yang datang kepada Rasulullah, lalu menyambut mereka dan memerintahkan kepada mereka empat perkara dan melarang dari empat perkara.

أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصِيَامُ رَمَضَانَ وَأَنْ تُعْطُوا مِنْ الْمَغْنَمِ الْخُمُسَ

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintah mereka agar beriman kepada Allah Azza wa Jalla semata, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya, 'Tahukah kalian, apakah beriman kepaada Allah semata itu? Mereka menjawab, 'Allah dan RasulNya lebih tahu. Beliau menerangkan, 'syahadat (persaksian) bahwa tidak ilah yang haq kecuali Allah dan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa salalm itu Rasulullah, menegakkan shalat, memberikan zakat, puasa Ramadlan dan memberikan seperlima dari ghanimah…"
Hadits yang mulia ini juga berbicara tentang iman.


Hadits nomor 12
Hadits ini adalah hadits nomor 1392, dan di beberapa tempat lainnya, dari jalan Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma.

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ ادْعُهُمْ إِلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ خَمْسَ صَلَوَاتٍ فِي كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ فَإِنْ هُمْ أَطَاعُوا لِذَلِكَ فَأَعْلِمْهُمْ أَنَّ اللَّهَ افْتَرَضَ عَلَيْهِمْ صَدَقَةً فِي أَمْوَالِهِمْ تُؤْخَذُ مِنْ أَغْنِيَائِهِمْ وَتُرَدُّ عَلَى فُقَرَائِهِمْ

"Bahwasanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengutus Mu'adz Radhiyallahu 'anhu ke Yaman, lalu Rasulullah bersabda, 'Serulah mereka kepada syahadat (persaksian) bahwa tidak ilah yang haq kecuali Allah dan bahwasanya aku Rasulullah. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima kali sehari semalam. Jika mereka mentaatimu dalam hal itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka zakat dalam harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang fakir mereka".

Hadits yang mulia ini diterima oleh seluruh ulama. Apakah hadits ini bukan berbicara masalah aqidah? Bahkan ini merupakan asas dalam Islam. Tidak ada Islam tanpa syahadat tauhid.



Hadits nomor 13
Yaitu hadits yang masyhur dan telah diterima oleh para ulama.

إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ

"Sesungguhnya mantera-mantera (yang bathil), jimat dan pelet termasuk bagian syirik".

Tentunya mantera-mantera yang dimaksudkan disini adalah mantera yang bathil. Karena ruqyah (pengobatan dengan bacaan) itu ada dua, ada yang syar'i dan yang tidak syar'i.

Hadits ini juga ahad, dan masih banyak lagi contoh-contoh tentang hadits ahad yang berkaitan dengan aqidah, dan diterima oleh para ulama.



دينك على قلبي ثبت القلوب يامقلب

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati kami di atas agama-Mu.”
(HR Tirmidzi [no.3522], Ahmad [4/302], al Hakim [1/525], Shohih Sunan Tirmidzi [no.2792]).